Feeds:
Pos
Komentar

Bagaimana Mendidik Anak

Bunda ANAK MERUPAKAN MATA HATIYANG SANGAT KITA HARAPKAN…

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

Catatan:
– Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.
– Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.

Perjalanan dakwah ke Jepang memberikan beberapa pelajaran berharga yang bermanfaat, serta memberikan ‘ibrah yang dapat membuka wawasan baru, sesuatu yang sangat penting buat bangsa kita untuk dapat berubah secara mental.

Disiplin Waktu

Menghargai waktu sudah jadi bagian akidah dasar orang Jepang. Di Jepang, waktu tidak lagi diukur dengan ukuran bulan, minggu atau hari, tapi berdasarkan ukuran jam dan menit.

Ketika naik Shinkansen, panitia hanya memberi bekal waktu saja.”Pokoknya ustadz lihat jam saja. Begitu jam yang tertera di tiket itu sudah tiba, kereta pasti berhenti dan stasiunnya pasti benar”, begitu pesan mereka.

Dan benar saja, tepat pada waktunya, kereta memang berhenti. Tidak tahu stasiun ini apa namanya, pokoknya kereta berhenti pada jadwal di mana kami harus turun. Ya, sudah, turun saja. Dan benar sekali. Pas di pintu gerbong, panitia sudah menunggu. Hebat, jam di Jepang memang dibuat dari logam, tidak seperti di negeri kita, jam rata-rata dibuat dari karet, jadi bisa ditarik melar ke sana kemari.

Jalan Kaki atau Naik Sepeda

Mau bergaya naik mobil pribadi di Jepang?

Boleh-boleh saja. Tapi sebentar, di Tokyo jarang ada tempat parkir. Kalau pun ada, harganya mahal. Dan jangan coba-coba parkir sembarangan, atau melebihi batas maksimal waktu yang dibolehkan. Bisa-bisa mobil kita ditempeli surat oleh polisi.

Mau tahu dendanya? Ya, sekitar 1, 2 jutaan rupiah. Wah, lumayan juga ya. Itulah mengapa kita harus berpikir berkali-kali kalau mau beli mobil di Tokyo. Apalagi sudah ada subway yang jauh lebih murah, dinamis dan juga bisa mengkases semua wilayah di Tokyo.

Walhasil, apakah dia pejabat, direktur atau pun tukang sapu, kita lihat mereka pergi ke mana-mana jalan kaki atau naik subway. Tidak ada perbedaan apakah mereka kaya ataukah miskin, semua sama-sama antri, semua sama-sama berbagi di dalam kereta subway yang penuh sesat, tapi aman dan nyaman.

Justru buat kami sedikit problem, karena tidak biasa olahraga walau pun hanya jalan kaki. Melihat orang ke mana-mana jalan kaki, kayaknya orang Jepang itu tidak ada capeknya. Sementara kaki ini sudah lecet karena dibawa jalan kaki ke mana-mana. Dan jangan coba-coba cari tukang ojek di Tokyo, ditanggung tidak ada.

Wah untung tidak ada Zaenal Abidin, kalau dia ada pasti dibilang peluang bisnis tuh. Dibuka: peluang jadi tukang ojek di Tokyo.

Di Tokyo dan juga kota-kota lain di Jepang, jalan-jalan disediakan buat para pejalan kaki dan juga mereka yang bersepeda. Nah, khusus untuk bersepeda, memang terasa sangat nyaman. Kita tidak takut kesenggol mobil atau kendaraan bermotor lain. Karena telah dibuatkan jalan khusus.

Sudah irit tanpa bahan bakar bensin, juga badan jadi sehat. Sudah lazim di berbagai gedung terdapat parkir sepeda. Mulai dari orang kecil sampai orang besar, mereka biasa bersepeda.

Tidak Mau Mengambil Yang Bukan Haknya

Masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan baik, yaitu melaporkan kepada polisi bila menemukan barang temuan atau barang hilang.

Heran, ini bukan negara Islam, tidak pernah berjargon syariah. Tapi implementasi syariah ternyata ada juga di Jepang. Yah, walau pun kita juga tidak bisa langsung bilang bahwa Jepang itu Islam. Sebab yang mabok juga banyak. Yang kumpul kebo juga tidak kurang.

Tapi urusan keamanan dan kejujuran, bisa diuji. Kalau ada orang kehilangan dompet di tempat umum, 90 – 100% kemungkinan dompet itu akan kembali kepada kita. Terutama bila ada kartu nama atau ID cardnya.

Mungkin karena sudah ditanamkan jujur sejak masih SD, tapi dipikir-pikir enggak juga ya. Di negeri kita, penanaman akhlaq dan budi pekerti serta kejujuran juga tidak kurang. Tapi herannya, kalau kita kehilangan dompet, meski sering juga kembali, tapi duitnya biasanya sudah raib.

Nah, bedanya dengan di Jepang, dompet itu kembali sendiri, masih lengkap dengan isinya, tidak kurang sedikit pun. Kita cukup lapor saja ke pos polisi terdekat. Biasanya, dompet itu malah sudah ada di kantor polisi itu. Ada orang jujur yang mau mengembalikan dompet itu ‘apa adanya’.

Pengalaman dulu isteri di Jakarta kehilangan dompet, fungsinya laporan ke polisi hanya sekedar dapat surat keterangan kehilangan. “Lha wong saya saja kehilangan motor, pak”, begitu kata polisinya. “Makanya hati-hati kalau bawa dompet, bu”, tambah pak polisi.

Iya ya, ngapain lapor polisi, kalau polisinya saja kehilangan motor. Lalu bagaimana beliau-beliau mau nyari dompet kita? Waduh, memang serba salah hidup di negara kita sendiri.

Senyap, Hobi Baca Sedikit Ngobrol

Salah satu kebiasaan masyarakat di Jepang yang kami perhatikan adalah mereka sangat menghargai kesenyapan, jauh dari kebisingan. Jarang kami dapati orang Jepang ngobrol tertawa-tawa di tempat umum, hingga mengganggu orang lain.

Ketika kami masuk ke sebuah warung makan Pakistan, barulah aroma berisik ngobrol terasa, karena ada beberapa orang Pakistan yang lagi makan. Mereka bisa sambil makan sambil ngobrol dan berisik. Sesuatu yang tidak terjadi pada orang Jepang.

Satu hal lagi yang juga tidak luput dari pengamatan kami, orang Jepang ini rata-rata pada hobi membaca. Di semua tempat, termasuk di dalam subway, mereka selalu pegang bacaan, entah buku atau pun koran. Atau kalau tidak, mereka sibuk menunduk memencet-mencet tombol HP. Tapi tidak bertelepon, mungkin lagi SMS atau malah membaca e-book.

Pemandangan ini agak berbeda dengan di negeri kita. Di dalam bus kota, kebisingan sangat kentara. Belum kondektur yang teriak-teriak, orang-orang yang ngobrol ngalor ngidul ke sana kemari. Bahkan masih diberisiki lagi dengan tukang ngamen yang tidak pernah ada hentinya.

Kebisingan sudah jadi bagian dari akidah hidup kita rupanya. Sesuatu yang kita tidak temukan di tempat umum di Tokyo. Masing-masing saling menjaga hak privasi orang lain, terutama dalam masalah kebisingan.

Menghargai Tenaga Manusia

Di Jepang, hampir semua tenaga kerja dibayar mahal. Pak Endrianto mengatakan bahwa kalau mau saja, seseorang boleh bekerja part-time dan dibayar dengan upah yang bisa buat berlibur ke pulau Bali.

“Oh, jadi turis-turis Jepang yang rajin ke Bali itu, boleh jadi di Jepang cuma tukang sampah atau cleaning service, ya?”, tanya kami. “Benar sekali, apalagi Garuda punya harga yang sangat menarik, maka penerbangan Tokyo Denpasar cukup diminati”, jawab beliau. “Dan cukup dari upah kerja kasar saja”, tambahnya.

Yang menarik, perbedaan nilai gaji pegawai rendahan atau kuli bangunan dengan pejabat tinggi tidak terlalu terpaut jauh. Sehingga jarang terjadi demo buruh di negeri ini. Semua kebutuhan buruh terpenuhi dengan cukup.

Wah, berarti kalau bikin partai yang mengusung agenda membela wong cilik, bisa-bisa tidak laku nih di Jepang. Sebab boleh dibilang tidak ada wong cilik di Jepang. Yang ada hanyalah wong cilik tapi bergaji gede. Maka sudah tidak lagi disebut wong cilik.

Budaya Malu

Orang punya budaya malu yang tinggi. Dan positifnya, kalau ada pejabat yang gagal dalam memegang amanah, tidak segan-segan mereka mengundurkan diri. Rasa malu mereka itulah yang mendorong mereka mundur.

Bagaimana dengan Indonesia? Adakah budaya malu yang sampai membuat seorang pejabat mundur dari jabatannya?

Entahlah kalau kita buka-buka sejarah. Tapi sekarang ini nyaris tidak ada. Bagaimana mau mundur, lha wong jabatan itu didapat dengan susah payah ditambah susah tidur, kok mundur?

Nanti penyandang dana kecewa. Sebab rata-rata para pejabat di negeri kita ini didanai oleh para penyandang dana alias supporter, ketika pilkada atau pemilu. Kalau hanya karena kegagalan lalu mengundurkan diri, sementara uang jarahan belum memenuhi pundi-pundi, bisa-bisa para cukongnya marah.

Jadi budaya malu lalu mengundurkan diri tidak sesuai dengan prinsip ekonomi yang berakidah: mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Dan jabatan adalah sumber penghasilan, tidak ada kamus malu. Yang ada hanya satu, maju terus menghadapi semua rintahan. Maju tak gentar membela yang bayar. Hehehe, sangat Indonesiawi.

Salam dan Sapaan

Mengucapkan salam adalah salah satu ciri masyarakat Jepang. Bahkan termasuk juga ciri polisi Jepang. Tidak jarang polisi lah yang lebih dulu menyapa anggota masyarakat.

Beda banget dengan di negara kita. Semua pengendara kendaraan bermotor kalau lihat polisi kumpul di pinggir jalan, pasti berdesir darahnya. Sebab polisi di negeri kita identik dengan ‘masalah’. Sudah tampangnya serem, eh suka minta duit pula.

Di Jepang, perilaku suka menyapa dengan ramah ini berdampak positif pada citra profesi kepolisian. Menyapa atau mengucapkan salam sudah ditanamkan sejak dini pula, sewaktu mereka menjalani pendidikan. Siswa calon polisi dilatih untuk secara terjadwal berjaga di pos pada saat-saat jam sibuk, yaitu pagi, siang dan sore hari. Mereka diwajibkan menyapa setiap warga yang lewat di depan pos tersebut.

Kalau di Indonesia, seandainya ada polisi menyapa kita di jalan, pasti kita sudah bilang, “Pak s..ss..ssaya salah apa pah, ah..eh..anu…bbbuu bukan saya malingnya, p..pak.” Suka tidak suka, memang begitulah yang terjadi di negeri kita. Sudah terlanjur kita ketakutan duluan lihat polisi. Gawat.

Jangan-jangan salah satu kegagalan pak Adang Daradjatun dalam pilkada Jakarta justru karena sulit mengubah citra pak polisi ini. Di tengah masyarakat kita ini, citra polisi nyatanya memang masih terlalu berat untuk diangkat. Buktinya, pak Adang kalah dan tidak terpilih. Jangan-jangan orang masih trauma dengan sosok polisi kita.

Selalu Minta Maaf dan Terima Kasih

Kalau sering lihat film-film ninja, kesan bahwa orang Jepang itu angker, angkuh, dingin dan kasar memang bisa terbentuk. Padahal sebetulnya orang Jepang itu tentu tidak semuanya ninja.

Yang kami dapati malah sebaliknya, orang Jepang justru sangat ramah dan kalau terjadi apa-apa, mereka lebih dahulu minta maaf.

Contoh sederhana, kalau di jalan kita tersenggol dengan sesama pejalan kaki, maka spontan akan meluncur dari mulut mereka permintaan maaf. Meski pun bukan kesalahan mereka: suimasen…suimasen (maaf…maaf…).

Kalimat lain yang paling sering kami dengar adalah ucapan terima kasih. Kalau tidak salah dengar mereka mengucapkan arigato gozaimasu (betul nggak ya tulisannya?). Tapi percayalah, itulah kalimat yang paling sering kami dengar selama beberapa hari di Jepang.

Pramugari di Sinkansen itu kalau memeriksa tiket, membungkuknya sangat dalam, bahkan ketika menyerahkan tiket yang sudah mereka periksa, bukan hanya membungkuk, tapi kakinya pun mereka tekuk, seperti orang mau berjongkok. Wah, ini sih lebih sopan dari puteri-puteri Keraton di Yogya dan Solo.

Tertib Ketika Antri

Namanya kota besar, pasti semua harus antri. Tapi yang menarik dari antrian yang di Jepang, semua berjalan dengan tertib. Tidak ada saling sodok, saling sikut dan saling dorong.

Termasuk saat antri masuk ke subway. Meski sudah sangat padat dan petugas terpaksa harus mendorong penumpang biar bisa masuk ke dalam gerbong, tapi yang belum kebagian tetap rela antri dengan manis.

Kesabaran orang Jepang dalam hal antri ini jarang kita temui di negeri kita. Bisa-bisanya mereka berdiri berjejer rapi, meski tidak ada pembatas. Mungkin sudah ‘bawaan orok’ kali ya.

Wah, seandainya di Timur Tengah orang-orang bisa seperti ini, mungkin asyik kali ya. Kenyataannya, orang Arab malah lebih parah. Pernahkah anda antri mencium Hajar Aswad di Ka’bah? Pasti semrawut dan saling dorong terjadi. (bersambung)

CERITA INI DIAMBIL DARI SALAH SEORANG TEMAN 

Tak terasa sudah pkl.16.00.Setelah shalat ashar, aku dan isteri pamit pulang. Hampir seharian kami bersilaturahim di rumah orang tua isteri di jonggol. Dengan mengucapkan salam dan senyum hangat kami pun pamit untuk pulang kembali ke Jakarta.

Di perjalanan kami naik angkot M.45 jurusan Citra graha prima – Pasar Cileungsi. Kebetulan supir angkotnya pernah membawa kami waktu kami berkunjung sebelumnya ke rumah orang tua isteri. Jadi kami sudah saling kenal. Di angkot kami banyak berincang dengan supir itu. Tentang keluarga, masyarakat dan daerah sekitar. Kadang perbincangan kami membuat kami tertawa kecil.

Lalu di tengah perjalanan hujan turun dengan deras dan disertai angin kencang. Tak terasa sudah 40 menit lebih kami dalam perjalanan. Tinggal beberapa menit lagi kami sampai di Pasar Cileungsi.
Karena di luar masih hujan, pak supir menurunkan kami di tempat yang bisa buat kami berteduh dari hujan dan angin kencang. Kami di turunkan di sebuah gubuk tempat tambal ban.

Setelah kami turun dan berteduh di pelataran tempat tambal ban itu. Terdengar suara orang tua dari dalam gubuk memanggil kami dan mempersilahkan kami untuk berteduh di dalam gubuknya. Orang tua itu bernama Pak Amin, usianya sekitar 70 tahun. Sudah cukup tua namun masih gagah dengan wajah bersahabat. Sambil berteduh aku memesan secangkir kopi sambil menunggu hujan reda. Maklum lah kami lupa bawa payung. Pak Amin pun menemani kami dan mulai membuka pembicaraan dengan bertanya dari mana mau ke mana dan banyak lagi. Dari situlah pembicaraan kami mulai hangat, banyak ilmu dan pengalaman hidup yang kami dapat dari Pak Amin. Beliau bercerita tentang keluarganya, bisnisnya, tujuan hidupnya dan kebahagiaanya.

Pak Amin dulunya adalah seorang pengusaha sepatu yang sukses. Terlihat di sudut-sudut gubuknya banyak sepatu-sepatu yang masih terbungkus karung besar dan plastik yang sudah berdebu karena lama tak di jual. Dahulu Pak Amin punya beberapa toko di Jakarta. Di pasar jatinegara ada 2 toko dan di pasar tanah abang. Beliau merintis usahanya dari kecil dan akhirnya sukses. Sampai bisa menyekolahkan ke 4 anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Tapi karena biaya sewa tempatnya makin mahal. Pak Amin memutuskan untuk memindahkan usahanya ke jonggol. Selain dekat dengan rumah, harga sewa tempatnya cukup murah. Walaupun sewa tokonya murah, tapi kebutuhan sepatu di jonggol sangat kurang. Akhirnya lama-kelamaan usahanya pun bangkrut.

Tapi ada yang menarik dari perjalanan hidup Pak Amin. Usahanya bangkrut ketika semua cita-cita dan kebahagiaannya telah tercapai. Beliau punya banyak harta. Punya rumah di Jakarta, Surabaya dan Jonggol. Juga punya beberapa meter tanah di jakarta. Juga ada Isteri yang setia, shalehah. Serta keempat anaknya yang telah lulus perguruan tinggi dan semuanya sukses. Ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi angkatan laut dan lain-lain. Yang pasti semua anak-anaknya sukses dan tidak ada yang kekurangan harta. Bahkan untuk menerima warisan dari Pak Amin pun anak-anaknya menolak. Anaknya pernah berkata kepada Beliau “buat apa warisan dari bapak, lah wong kita sudah hidup berkecukupan kok”. Akhirnya semua harta benda Pak Amin ia bagikan ke saudara-saudaranya yang kurang mampu, ke yayasan dan orang-orang yang tidak mampu di sekitarnya. Lalu sisanya ia berikan untuk isterinya.

Dan yang membuat saya terkesan, pak Amin tidak mau tinggal di rumahnya yang mewah, berpakaian mewah dan menghabiskan masa tuanya dengan santai. Ia malah membeli dan tinggal di gubuk reot ukuran 3×3 meter di pinggir jalan di pasar cileungsi ini. Dan berkerja sebagai tukang tambal ban. Sungguh mengherankan orang tua ini. Seharusnya beliau bisa hidup enak dengan semuanya. tapi mengapa masih bersusah payah segala…??!! Ketika aku tanyakan hal itu ke beliau, beliau tersenyum dan menjawab “Buat apa bapak melakukan semua itu, bapak lebih suka hidup seperti ini, inilah hidup bapak, ini lah kebahagiaan bapak, bapak sudah cukup bahagia dan bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada bapak. Lalu apa lagi yang bapak cari?? Orang tinggal nunggu mati aja kok…bapak cuma butuh makan untuk hidup, dengan nambal 1 atau 2 ban motor aja udah cukup buat makan”. Subhanallah… sungguh zuhud orang tua ini (gumam ku….)

Pak Amin juga berpesan kepada kami, “Janganlah kamu wariskan harta kepada anak-anakmu, tapi wariskanlah ilmu. Karena bila kamu wariskan harta, kelak anakmu akan bersengketa dan tidak rukun. Bila kamu wariskan ilmu kelak anakmu akan dapat berdiri sendiri”. Aku jadi teringat pekataan ‘Ali bin Abu Thalib “Sesugguhnya perbedaan harta dengan ilmu adalah harta engkau yang menjaganya, sedangkan ilmu yang menjagamu, harta bila digunakan akan habis, sedangkan ilmu akan bertambah.”

Beliau juga berpesan bahwa “Jasa orang tua kita begitu banyak, dan tidak akan mungkin kita bisa membalasnya, bagaimana kita bisa membalasnya?? Dididiklah anak-anakmu dengan sebaik-baiknya, itulah caranya kamu balas budi orang tuamu”. Benar juga apa yang Pak Amin sampaikan, sesungguhnya anak kita adalah amanah dari Allah. Kelak kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan anak yang shaleh adalah salah satu amal yang akan selalu mengalir pahalanya sampai hari akhir nanti. Subhanallah… hari ini kami dapat banyak pelajaran dari seorang tua tukang tambal ban.

Tak terasa hujan sudah mulai reda, aku dan isteri izin pamit kepada Pak Amin. Dan berterima kasih telah memberikan pelajaran yang berharga pada kami. Lalu kami pun bergegas naik angkot lagi karena perjalanan kami masih cukup jauh. Dan kami tidak akan melupakan pelajaran yang Allah berikan dari seorang tukang tambal ban.

Pelajaran akan bagaimana bersyukur…. bagaimana bersabar… bagaimana bangkit dari jatuh…. bagaimana mendidik anak dan bagaimana hidup dengan sederhana seperti yang Rasulullah contohkan kepada kita. Juga pelajaran akan pentingnya mempersiapkan diri untuk hari akhir nanti………

CHARACTER BUILDING

PEMBENTUKAN KARAKTER MENJADI HAL YANG SANGAT URGEN, BILA KITA LIHAT KONDISI MASYARAKAT SAAT INI YANG SEDANG MENGALAMI DEKADENSI MORAL, DAPAT KITA RASAKAN BERSAMA FENOMENA DEKADENSI MORAL, SEPERTI KENAKALAN REMAJA, NARKOBA, KORUPSI, KOLUSI, NEPOTISME, KASUS-KASUS KEKERASAN ANTAR SESAMA, DLL, NAH PENULIS MENCOBA UNTUK MEMBERIKAN SUMBANGSSIH KECIL DALAM WACANA INI UNTUK KITA BERBAGI ANTAR SESAMA DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER YANG BAIK….

Pendahuluan

Surah : Al-kahfi: 103-105

Artinya:” Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan Mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang  yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan Mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.  

Semakin hari kian terasa bahwa kehidupan manusia makin menjurus kearah pengejaran segala sesuatu yang bermakna fisik-material, di mana dalam kajian sosiologi kecenderungan semacam ini disebut sebagai proses “reifikasi”, yaitu ketika manusia saling mengejar apa saja yang bernilai “material”. Bagi mereka kehidupan ini dimaknai hanya sekedar untuk mengisi “perut” dan memenuhi segala macam kesenangan yang nyaris mengabaikan segala aspek yang berdimensi spiritual.

Lanjut Baca »

Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Lanjut Baca »