<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Try and Pray!</title>
	<atom:link href="http://rihlah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rihlah.wordpress.com</link>
	<description>NO DAYS WITHOUT TRY AND PRAY</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 Aug 2008 02:06:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='rihlah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b072d3b6693edcb7720b96ce1919c4ce?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Try and Pray!</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Bagaimana Mendidik Anak</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com/2008/08/16/bagaimana-mendidik-anak/</link>
		<comments>http://rihlah.wordpress.com/2008/08/16/bagaimana-mendidik-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 02:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rihlah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihlah.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Bunda ANAK MERUPAKAN MATA HATIYANG SANGAT KITA HARAPKAN&#8230;
Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.
Hal pertama Bunda, tahukah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=28&subd=rihlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bunda ANAK MERUPAKAN MATA HATIYANG SANGAT KITA HARAPKAN&#8230;</p>
<p>Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.</p>
<p>Hal <em><strong>pertama </strong></em>Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke <strong><em>Kesuksesan Sejati</em></strong>. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.</p>
<p>Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:<br />
<em>“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)<br />
</em></p>
<p>Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai <strong><em>memahami anak-anakmu</em></strong>. Ada dua hal yang perlu kau amati:</p>
<p><em>Pertama</em>, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.</p>
<p>Yang <em>kedua</em>, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.<br />
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.</p>
<p>Tahapan sebelum kelahirannya merupakan <strong><em>alam arwah</em></strong>. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.</p>
<p>Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:<br />
1. Tahap <strong><em>BERMAIN</em></strong> (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.<br />
2. Tahap <strong><em>PENANAMAN DISIPLIN</em></strong> (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.<br />
3. Tahap <strong><em>KEMITRAAN</em></strong> (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.<br />
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.</p>
<p>Hal <strong><em>ketiga </em></strong>adalah <strong><em>memilih metode pendidikan</em></strong>. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.</p>
<p>Yang <em>pertama</em> adalah melalui <strong><em>Keteladanan</em></strong> atau Qudwah, yang <em>kedua</em> adalah dengan <strong><em>Pembiasaan</em></strong> atau Aadah, yang <em>ketiga </em>adalah melalui Pemberian <strong><em>Nasehat </em></strong>atau Mau’izhoh, yang <em>keempat </em>dengan melaksanakan Mekanisme <strong><em>Kontrol</em></strong> atau Mulahazhoh, sedangkan yang <em>terakhir </em>dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem <em><strong>sangsi </strong></em>atau Uqubah.</p>
<p><em><strong>Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan</strong> (sebagai metode yang paling efektif).</em></p>
<p>Setelah bicara Metode, <strong><em>ke empat</em></strong> adalah <em><strong>Isi Pendidikan</strong></em> itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.<br />
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan <em>Keimanan</em> (2) Pendidikan <em>Akhlaq </em>(3) Pendidikan Fikroh/ <em>Pemikiran</em> (4) Pendidikan <em>Fisik </em>(5) Pendidikan <em>Sosial </em>(6) Pendidikan <em>Kejiwaan/</em> Kepribadian (7) Pendidikan <em>Kejenisan</em> (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.</p>
<p><em><strong><img src="http://rihlah.wordpress.com/fckfiles/Image/Bunga(1).jpg" border="2" alt="" width="180" height="136" align="left" />Ke lima</strong></em>, kira-kira gambaran <em><strong>pribadi seperti apakah yang kita harapkan</strong></em> akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:<br />
<em>Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.</em></p>
<p>Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)</p>
<p>Catatan:<br />
- Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.<br />
- Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rihlah.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rihlah.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihlah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihlah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihlah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihlah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihlah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihlah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihlah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihlah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihlah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihlah.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=28&subd=rihlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihlah.wordpress.com/2008/08/16/bagaimana-mendidik-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e787b78030fdab0512be1eec2790950?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihlah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rihlah.wordpress.com/fckfiles/Image/Bunga(1).jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BELAJAR KARAKTER LEWAT NEGERI JEPANG&#8230;</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com/2008/05/14/belajar-karakter-lewat-negeri-jepang/</link>
		<comments>http://rihlah.wordpress.com/2008/05/14/belajar-karakter-lewat-negeri-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 04:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rihlah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihlah.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan dakwah ke Jepang memberikan beberapa pelajaran berharga yang bermanfaat, serta memberikan &#8216;ibrah yang dapat membuka wawasan baru, sesuatu yang sangat penting buat bangsa kita untuk dapat berubah secara mental.
Disiplin Waktu
Menghargai waktu sudah jadi bagian akidah dasar orang Jepang. Di Jepang, waktu tidak lagi diukur dengan ukuran bulan, minggu atau hari, tapi berdasarkan ukuran jam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=27&subd=rihlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://rihlah.wordpress.com/fckfiles/Image/123(2).jpg" alt="" width="180" align="right" />Perjalanan dakwah ke Jepang memberikan beberapa pelajaran berharga yang bermanfaat, serta memberikan &#8216;ibrah yang dapat membuka wawasan baru, sesuatu yang sangat penting buat bangsa kita untuk dapat berubah secara mental.</p>
<p><strong>Disiplin Waktu</strong></p>
<p>Menghargai waktu sudah jadi bagian akidah dasar orang Jepang. Di Jepang, waktu tidak lagi diukur dengan ukuran bulan, minggu atau hari, tapi berdasarkan ukuran jam dan menit.</p>
<p>Ketika naik Shinkansen, panitia hanya memberi bekal waktu saja.&#8221;Pokoknya ustadz lihat jam saja. Begitu jam yang tertera di tiket itu sudah tiba, kereta pasti berhenti dan stasiunnya pasti benar&#8221;, begitu pesan mereka.</p>
<p>Dan benar saja, tepat pada waktunya, kereta memang berhenti. Tidak tahu stasiun ini apa namanya, pokoknya kereta berhenti pada jadwal di mana kami harus turun. Ya, sudah, turun saja. Dan benar sekali. Pas di pintu gerbong, panitia sudah menunggu. Hebat, jam di Jepang memang dibuat dari logam, tidak seperti di negeri kita, jam rata-rata dibuat dari karet, jadi bisa ditarik melar ke sana kemari.</p>
<p><strong>Jalan Kaki atau Naik Sepeda<br />
</strong></p>
<p>Mau bergaya naik mobil pribadi di Jepang?</p>
<p>Boleh-boleh saja. Tapi sebentar, di Tokyo jarang ada tempat parkir. Kalau pun ada, harganya mahal. Dan jangan coba-coba parkir sembarangan, atau melebihi batas maksimal waktu yang dibolehkan. Bisa-bisa mobil kita ditempeli surat oleh polisi.</p>
<p>Mau tahu dendanya? Ya, sekitar 1, 2 jutaan rupiah. Wah, lumayan juga ya. Itulah mengapa kita harus berpikir berkali-kali kalau mau beli mobil di Tokyo. Apalagi sudah ada subway yang jauh lebih murah, dinamis dan juga bisa mengkases semua wilayah di Tokyo.</p>
<p>Walhasil, apakah dia pejabat, direktur atau pun tukang sapu, kita lihat mereka pergi ke mana-mana jalan kaki atau naik subway. Tidak ada perbedaan apakah mereka kaya ataukah miskin, semua sama-sama antri, semua sama-sama berbagi di dalam kereta subway yang penuh sesat, tapi aman dan nyaman.</p>
<p>Justru buat kami sedikit problem, karena tidak biasa olahraga walau pun hanya jalan kaki. Melihat orang ke mana-mana jalan kaki, kayaknya orang Jepang itu tidak ada capeknya. Sementara kaki ini sudah lecet karena dibawa jalan kaki ke mana-mana. Dan jangan coba-coba cari tukang ojek di Tokyo, ditanggung tidak ada.</p>
<p>Wah untung tidak ada Zaenal Abidin, kalau dia ada pasti dibilang peluang bisnis tuh. Dibuka: peluang jadi tukang ojek di Tokyo.</p>
<p>Di Tokyo dan juga kota-kota lain di Jepang, jalan-jalan disediakan buat para pejalan kaki dan juga mereka yang bersepeda. Nah, khusus untuk bersepeda, memang terasa sangat nyaman. Kita tidak takut kesenggol mobil atau kendaraan bermotor lain. Karena telah dibuatkan jalan khusus.</p>
<p>Sudah irit tanpa bahan bakar bensin, juga badan jadi sehat. Sudah lazim di berbagai gedung terdapat parkir sepeda. Mulai dari orang kecil sampai orang besar, mereka biasa bersepeda.</p>
<p><strong>Tidak Mau Mengambil Yang Bukan Haknya</strong></p>
<p>Masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan baik, yaitu melaporkan kepada polisi bila menemukan barang temuan atau barang hilang.</p>
<p>Heran, ini bukan negara Islam, tidak pernah berjargon syariah. Tapi implementasi syariah ternyata ada juga di Jepang. Yah, walau pun kita juga tidak bisa langsung bilang bahwa Jepang itu Islam. Sebab yang mabok juga banyak. Yang kumpul kebo juga tidak kurang.</p>
<p>Tapi urusan keamanan dan kejujuran, bisa diuji. Kalau ada orang kehilangan dompet di tempat umum, 90 &#8211; 100% kemungkinan dompet itu akan kembali kepada kita. Terutama bila ada kartu nama atau ID cardnya.</p>
<p>Mungkin karena sudah ditanamkan jujur sejak masih SD, tapi dipikir-pikir enggak juga ya. Di negeri kita, penanaman akhlaq dan budi pekerti serta kejujuran juga tidak kurang. Tapi herannya, kalau kita kehilangan dompet, meski sering juga kembali, tapi duitnya biasanya sudah raib.</p>
<p>Nah, bedanya dengan di Jepang, dompet itu kembali sendiri, masih lengkap dengan isinya, tidak kurang sedikit pun. Kita cukup lapor saja ke pos polisi terdekat. Biasanya, dompet itu malah sudah ada di kantor polisi itu. Ada orang jujur yang mau mengembalikan dompet itu &#8216;apa adanya&#8217;.</p>
<p>Pengalaman dulu isteri di Jakarta kehilangan dompet, fungsinya laporan ke polisi hanya sekedar dapat surat keterangan kehilangan. &#8220;Lha wong saya saja kehilangan motor, pak&#8221;, begitu kata polisinya. &#8220;Makanya hati-hati kalau bawa dompet, bu&#8221;, tambah pak polisi.</p>
<p>Iya ya, ngapain lapor polisi, kalau polisinya saja kehilangan motor. Lalu bagaimana beliau-beliau mau nyari dompet kita? Waduh, memang serba salah hidup di negara kita sendiri.</p>
<p><strong>Senyap, Hobi Baca Sedikit Ngobrol</strong></p>
<p>Salah satu kebiasaan masyarakat di Jepang yang kami perhatikan adalah mereka sangat menghargai kesenyapan, jauh dari kebisingan. Jarang kami dapati orang Jepang ngobrol tertawa-tawa di tempat umum, hingga mengganggu orang lain.</p>
<p>Ketika kami masuk ke sebuah warung makan Pakistan, barulah aroma berisik ngobrol terasa, karena ada beberapa orang Pakistan yang lagi makan. Mereka bisa sambil makan sambil ngobrol dan berisik. Sesuatu yang tidak terjadi pada orang Jepang.</p>
<p>Satu hal lagi yang juga tidak luput dari pengamatan kami, orang Jepang ini rata-rata pada hobi membaca. Di semua tempat, termasuk di dalam subway, mereka selalu pegang bacaan, entah buku atau pun koran. Atau kalau tidak, mereka sibuk menunduk memencet-mencet tombol HP. Tapi tidak bertelepon, mungkin lagi SMS atau malah membaca e-book.</p>
<p>Pemandangan ini agak berbeda dengan di negeri kita. Di dalam bus kota, kebisingan sangat kentara. Belum kondektur yang teriak-teriak, orang-orang yang ngobrol ngalor ngidul ke sana kemari. Bahkan masih diberisiki lagi dengan tukang ngamen yang tidak pernah ada hentinya.</p>
<p>Kebisingan sudah jadi bagian dari akidah hidup kita rupanya. Sesuatu yang kita tidak temukan di tempat umum di Tokyo. Masing-masing saling menjaga hak privasi orang lain, terutama dalam masalah kebisingan.</p>
<p><strong>Menghargai Tenaga Manusia</strong></p>
<p>Di Jepang, hampir semua tenaga kerja dibayar mahal. Pak Endrianto mengatakan bahwa kalau mau saja, seseorang boleh bekerja part-time dan dibayar dengan upah yang bisa buat berlibur ke pulau Bali.</p>
<p>&#8220;Oh, jadi turis-turis Jepang yang rajin ke Bali itu, boleh jadi di Jepang cuma tukang sampah atau cleaning service, ya?&#8221;, tanya kami. &#8220;Benar sekali, apalagi Garuda punya harga yang sangat menarik, maka penerbangan Tokyo Denpasar cukup diminati&#8221;, jawab beliau. &#8220;Dan cukup dari upah kerja kasar saja&#8221;, tambahnya.</p>
<p>Yang menarik, perbedaan nilai gaji pegawai rendahan atau kuli bangunan dengan pejabat tinggi tidak terlalu terpaut jauh. Sehingga jarang terjadi demo buruh di negeri ini. Semua kebutuhan buruh terpenuhi dengan cukup.</p>
<p>Wah, berarti kalau bikin partai yang mengusung agenda membela wong cilik, bisa-bisa tidak laku nih di Jepang. Sebab boleh dibilang tidak ada wong cilik di Jepang. Yang ada hanyalah wong cilik tapi bergaji gede. Maka sudah tidak lagi disebut wong cilik.</p>
<p><strong>Budaya Malu</strong></p>
<p>Orang punya budaya malu yang tinggi. Dan positifnya, kalau ada pejabat yang gagal dalam memegang amanah, tidak segan-segan mereka mengundurkan diri. Rasa malu mereka itulah yang mendorong mereka mundur.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia? Adakah budaya malu yang sampai membuat seorang pejabat mundur dari jabatannya?</p>
<p>Entahlah kalau kita buka-buka sejarah. Tapi sekarang ini nyaris tidak ada. Bagaimana mau mundur, lha wong jabatan itu didapat dengan susah payah ditambah susah tidur, kok mundur?</p>
<p>Nanti penyandang dana kecewa. Sebab rata-rata para pejabat di negeri kita ini didanai oleh para penyandang dana alias supporter, ketika pilkada atau pemilu. Kalau hanya karena kegagalan lalu mengundurkan diri, sementara uang jarahan belum memenuhi pundi-pundi, bisa-bisa para cukongnya marah.</p>
<p>Jadi budaya malu lalu mengundurkan diri tidak sesuai dengan prinsip ekonomi yang berakidah: mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Dan jabatan adalah sumber penghasilan, tidak ada kamus malu. Yang ada hanya satu, maju terus menghadapi semua rintahan. Maju tak gentar membela yang bayar. Hehehe, sangat Indonesiawi.</p>
<p><strong>Salam dan Sapaan</strong></p>
<p>Mengucapkan salam adalah salah satu ciri masyarakat Jepang. Bahkan termasuk juga ciri polisi Jepang. Tidak jarang polisi lah yang lebih dulu menyapa anggota masyarakat.</p>
<p>Beda banget dengan di negara kita. Semua pengendara kendaraan bermotor kalau lihat polisi kumpul di pinggir jalan, pasti berdesir darahnya. Sebab polisi di negeri kita identik dengan &#8216;masalah&#8217;. Sudah tampangnya serem, eh suka minta duit pula.</p>
<p>Di Jepang, perilaku suka menyapa dengan ramah ini berdampak positif pada citra profesi kepolisian. Menyapa atau mengucapkan salam sudah ditanamkan sejak dini pula, sewaktu mereka menjalani pendidikan. Siswa calon polisi dilatih untuk secara terjadwal berjaga di pos pada saat-saat jam sibuk, yaitu pagi, siang dan sore hari. Mereka diwajibkan menyapa setiap warga yang lewat di depan pos tersebut.</p>
<p>Kalau di Indonesia, seandainya ada polisi menyapa kita di jalan, pasti kita sudah bilang, &#8220;Pak s..ss..ssaya salah apa pah, ah..eh..anu&#8230;bbbuu bukan saya malingnya, p..pak.&#8221; Suka tidak suka, memang begitulah yang terjadi di negeri kita. Sudah terlanjur kita ketakutan duluan lihat polisi. Gawat.</p>
<p>Jangan-jangan salah satu kegagalan pak Adang Daradjatun dalam pilkada Jakarta justru karena sulit mengubah citra pak polisi ini. Di tengah masyarakat kita ini, citra polisi nyatanya memang masih terlalu berat untuk diangkat. Buktinya, pak Adang kalah dan tidak terpilih. Jangan-jangan orang masih trauma dengan sosok polisi kita.</p>
<p><strong>Selalu Minta Maaf dan Terima Kasih</strong></p>
<p>Kalau sering lihat film-film ninja, kesan bahwa orang Jepang itu angker, angkuh, dingin dan kasar memang bisa terbentuk. Padahal sebetulnya orang Jepang itu tentu tidak semuanya ninja.</p>
<p>Yang kami dapati malah sebaliknya, orang Jepang justru sangat ramah dan kalau terjadi apa-apa, mereka lebih dahulu minta maaf.</p>
<p>Contoh sederhana, kalau di jalan kita tersenggol dengan sesama pejalan kaki, maka spontan akan meluncur dari mulut mereka permintaan maaf. Meski pun bukan kesalahan mereka: suimasen&#8230;suimasen (maaf&#8230;maaf&#8230;).</p>
<p>Kalimat lain yang paling sering kami dengar adalah ucapan terima kasih. Kalau tidak salah dengar mereka mengucapkan <em>arigato gozaimasu</em> (betul nggak ya tulisannya?). Tapi percayalah, itulah kalimat yang paling sering kami dengar selama beberapa hari di Jepang.</p>
<p>Pramugari di Sinkansen itu kalau memeriksa tiket, membungkuknya sangat dalam, bahkan ketika menyerahkan tiket yang sudah mereka periksa, bukan hanya membungkuk, tapi kakinya pun mereka tekuk, seperti orang mau berjongkok. Wah, ini sih lebih sopan dari puteri-puteri Keraton di Yogya dan Solo.</p>
<p><strong>Tertib Ketika Antri</strong></p>
<p><img src="http://rihlah.wordpress.com/fckfiles/Image/doronglah.jpg" alt="" width="180" align="right" />Namanya kota besar, pasti semua harus antri. Tapi yang menarik dari antrian yang di Jepang, semua berjalan dengan tertib. Tidak ada saling sodok, saling sikut dan saling dorong.</p>
<p>Termasuk saat antri masuk ke subway. Meski sudah sangat padat dan petugas terpaksa harus mendorong penumpang biar bisa masuk ke dalam gerbong, tapi yang belum kebagian tetap rela antri dengan manis.</p>
<p>Kesabaran orang Jepang dalam hal antri ini jarang kita temui di negeri kita. Bisa-bisanya mereka berdiri berjejer rapi, meski tidak ada pembatas. Mungkin sudah &#8216;bawaan orok&#8217; kali ya.</p>
<p>Wah, seandainya di Timur Tengah orang-orang bisa seperti ini, mungkin asyik kali ya. Kenyataannya, orang Arab malah lebih parah. Pernahkah anda antri mencium Hajar Aswad di Ka&#8217;bah? Pasti semrawut dan saling dorong terjadi. (bersambung)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rihlah.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rihlah.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihlah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihlah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihlah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihlah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihlah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihlah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihlah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihlah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihlah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihlah.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=27&subd=rihlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihlah.wordpress.com/2008/05/14/belajar-karakter-lewat-negeri-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e787b78030fdab0512be1eec2790950?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihlah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rihlah.wordpress.com/fckfiles/Image/123(2).jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://rihlah.wordpress.com/fckfiles/Image/doronglah.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BELAJAR MEMBANGUN KARAKTER LEWAT PENGALAMAN</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com/2008/03/12/belajar-membangun-karakter-lewat-pengalaman/</link>
		<comments>http://rihlah.wordpress.com/2008/03/12/belajar-membangun-karakter-lewat-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 04:08:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rihlah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihlah.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[CERITA INI DIAMBIL DARI SALAH SEORANG TEMAN 
Tak terasa sudah pkl.16.00.Setelah shalat ashar, aku dan isteri pamit pulang. Hampir seharian kami bersilaturahim di rumah orang tua isteri di jonggol. Dengan mengucapkan salam dan senyum hangat kami pun pamit untuk pulang kembali ke Jakarta.
Di perjalanan kami naik angkot M.45 jurusan Citra graha prima &#8211; Pasar Cileungsi. Kebetulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=26&subd=rihlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>CERITA INI DIAMBIL DARI SALAH SEORANG TEMAN </p>
<p>Tak terasa sudah pkl.16.00.Setelah shalat ashar, aku dan isteri pamit pulang. Hampir seharian kami bersilaturahim di rumah orang tua isteri di jonggol. Dengan mengucapkan salam dan senyum hangat kami pun pamit untuk pulang kembali ke Jakarta.</p>
<p>Di perjalanan kami naik angkot M.45 jurusan Citra graha prima &#8211; Pasar Cileungsi. Kebetulan supir angkotnya pernah membawa kami waktu kami berkunjung sebelumnya ke rumah orang tua isteri. Jadi kami sudah saling kenal. Di angkot kami banyak berincang dengan supir itu. Tentang keluarga, masyarakat dan daerah sekitar. Kadang perbincangan kami membuat kami tertawa kecil.</p>
<p>Lalu di tengah perjalanan hujan turun dengan deras dan disertai angin kencang. Tak terasa sudah 40 menit lebih kami dalam perjalanan. Tinggal beberapa menit lagi kami sampai di Pasar Cileungsi.<br />
Karena di luar masih hujan, pak supir menurunkan kami di tempat yang bisa buat kami berteduh dari hujan dan angin kencang. Kami di turunkan di sebuah gubuk tempat tambal ban.</p>
<p>Setelah kami turun dan berteduh di pelataran tempat tambal ban itu. Terdengar suara orang tua dari dalam gubuk memanggil kami dan mempersilahkan kami untuk berteduh di dalam gubuknya. Orang tua itu bernama Pak Amin, usianya sekitar 70 tahun. Sudah cukup tua namun masih gagah dengan wajah bersahabat. Sambil berteduh aku memesan secangkir kopi sambil menunggu hujan reda. Maklum lah kami lupa bawa payung. Pak Amin pun menemani kami dan mulai membuka pembicaraan dengan bertanya dari mana mau ke mana dan banyak lagi. Dari situlah pembicaraan kami mulai hangat, banyak ilmu dan pengalaman hidup yang kami dapat dari Pak Amin. Beliau bercerita tentang keluarganya, bisnisnya, tujuan hidupnya dan kebahagiaanya.</p>
<p>Pak Amin dulunya adalah seorang pengusaha sepatu yang sukses. Terlihat di sudut-sudut gubuknya banyak sepatu-sepatu yang masih terbungkus karung besar dan plastik yang sudah berdebu karena lama tak di jual. Dahulu Pak Amin punya beberapa toko di Jakarta. Di pasar jatinegara ada 2 toko dan di pasar tanah abang. Beliau merintis usahanya dari kecil dan akhirnya sukses. Sampai bisa menyekolahkan ke 4 anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Tapi karena biaya sewa tempatnya makin mahal. Pak Amin memutuskan untuk memindahkan usahanya ke jonggol. Selain dekat dengan rumah, harga sewa tempatnya cukup murah. Walaupun sewa tokonya murah, tapi kebutuhan sepatu di jonggol sangat kurang. Akhirnya lama-kelamaan usahanya pun bangkrut.</p>
<p>Tapi ada yang menarik dari perjalanan hidup Pak Amin. Usahanya bangkrut ketika semua cita-cita dan kebahagiaannya telah tercapai. Beliau punya banyak harta. Punya rumah di Jakarta, Surabaya dan Jonggol. Juga punya beberapa meter tanah di jakarta. Juga ada Isteri yang setia, shalehah. Serta keempat anaknya yang telah lulus perguruan tinggi dan semuanya sukses. Ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi angkatan laut dan lain-lain. Yang pasti semua anak-anaknya sukses dan tidak ada yang kekurangan harta. Bahkan untuk menerima warisan dari Pak Amin pun anak-anaknya menolak. Anaknya pernah berkata kepada Beliau <i>&#8220;buat apa warisan dari bapak, lah wong kita sudah hidup berkecukupan kok&#8221;</i>. Akhirnya semua harta benda Pak Amin ia bagikan ke saudara-saudaranya yang kurang mampu, ke yayasan dan orang-orang yang tidak mampu di sekitarnya. Lalu sisanya ia berikan untuk isterinya.</p>
<p>Dan yang membuat saya terkesan, pak Amin tidak mau tinggal di rumahnya yang mewah, berpakaian mewah dan menghabiskan masa tuanya dengan santai. Ia malah membeli dan tinggal di gubuk reot ukuran 3&#215;3 meter di pinggir jalan di pasar cileungsi ini. Dan berkerja sebagai tukang tambal ban. Sungguh mengherankan orang tua ini. Seharusnya beliau bisa hidup enak dengan semuanya. tapi mengapa masih bersusah payah segala&#8230;??!! Ketika aku tanyakan hal itu ke beliau, beliau tersenyum dan menjawab <i>&#8220;Buat apa bapak melakukan semua itu, bapak lebih suka hidup seperti ini, inilah hidup bapak, ini lah kebahagiaan bapak, bapak sudah cukup bahagia dan bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepada bapak. Lalu apa lagi yang bapak cari?? Orang tinggal nunggu mati aja kok&#8230;bapak cuma butuh makan untuk hidup, dengan nambal 1 atau 2 ban motor aja udah cukup buat makan&#8221;</i>. Subhanallah&#8230; sungguh zuhud orang tua ini (gumam ku&#8230;.)</p>
<p>Pak Amin juga berpesan kepada kami, <i>&#8220;Janganlah kamu wariskan harta kepada anak-anakmu, tapi wariskanlah ilmu. Karena bila kamu wariskan harta, kelak anakmu akan bersengketa dan tidak rukun. Bila kamu wariskan ilmu kelak anakmu akan dapat berdiri sendiri&#8221;</i>. Aku jadi teringat pekataan &#8216;Ali bin Abu Thalib <b><i>&#8220;Sesugguhnya perbedaan harta dengan ilmu adalah harta engkau yang menjaganya, sedangkan ilmu yang menjagamu, harta bila digunakan akan habis, sedangkan ilmu akan bertambah.&#8221;</i></b></p>
<p>Beliau juga berpesan bahwa <i>&#8220;Jasa orang tua kita begitu banyak, dan tidak akan mungkin kita bisa membalasnya, bagaimana kita bisa membalasnya?? <b>Dididiklah anak-anakmu dengan sebaik-baiknya, </b>itulah caranya kamu balas budi orang tuamu&#8221;</i>. Benar juga apa yang Pak Amin sampaikan, sesungguhnya anak kita adalah amanah dari Allah. Kelak kita akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan anak yang shaleh adalah salah satu amal yang akan selalu mengalir pahalanya sampai hari akhir nanti. Subhanallah&#8230; hari ini kami dapat banyak pelajaran dari seorang tua tukang tambal ban.</p>
<p>Tak terasa hujan sudah mulai reda, aku dan isteri izin pamit kepada Pak Amin. Dan berterima kasih telah memberikan pelajaran yang berharga pada kami. Lalu kami pun bergegas naik angkot lagi karena perjalanan kami masih cukup jauh. Dan kami tidak akan melupakan pelajaran yang Allah berikan dari seorang tukang tambal ban.</p>
<p>Pelajaran akan bagaimana bersyukur&#8230;. bagaimana bersabar&#8230; bagaimana bangkit dari jatuh&#8230;. bagaimana mendidik anak dan bagaimana hidup dengan sederhana seperti yang Rasulullah contohkan kepada kita. Juga pelajaran akan pentingnya mempersiapkan diri untuk hari akhir nanti&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rihlah.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rihlah.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihlah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihlah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihlah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihlah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihlah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihlah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihlah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihlah.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihlah.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihlah.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=26&subd=rihlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihlah.wordpress.com/2008/03/12/belajar-membangun-karakter-lewat-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e787b78030fdab0512be1eec2790950?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihlah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CHARACTER BUILDING</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/14/character-building/</link>
		<comments>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/14/character-building/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 04:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rihlah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihlah.wordpress.com/2007/05/14/character-building/</guid>
		<description><![CDATA[PEMBENTUKAN KARAKTER MENJADI HAL YANG SANGAT URGEN, BILA KITA LIHAT KONDISI MASYARAKAT SAAT INI YANG SEDANG MENGALAMI DEKADENSI MORAL, DAPAT KITA RASAKAN BERSAMA FENOMENA DEKADENSI MORAL, SEPERTI KENAKALAN REMAJA, NARKOBA, KORUPSI, KOLUSI, NEPOTISME, KASUS-KASUS KEKERASAN ANTAR SESAMA, DLL, NAH PENULIS MENCOBA UNTUK MEMBERIKAN SUMBANGSSIH KECIL DALAM WACANA INI UNTUK KITA BERBAGI ANTAR SESAMA DALAM UPAYA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=9&subd=rihlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>PEMBENTUKAN KARAKTER MENJADI HAL YANG SANGAT URGEN, BILA KITA LIHAT KONDISI MASYARAKAT SAAT INI YANG SEDANG MENGALAMI DEKADENSI MORAL, DAPAT KITA RASAKAN BERSAMA FENOMENA DEKADENSI MORAL, SEPERTI KENAKALAN REMAJA, NARKOBA, KORUPSI, KOLUSI, NEPOTISME, KASUS-KASUS KEKERASAN ANTAR SESAMA, DLL, NAH PENULIS MENCOBA UNTUK MEMBERIKAN SUMBANGSSIH KECIL DALAM WACANA INI UNTUK KITA BERBAGI ANTAR SESAMA DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER YANG BAIK&#8230;.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rihlah.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rihlah.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihlah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihlah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihlah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihlah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihlah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihlah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihlah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihlah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihlah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihlah.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=9&subd=rihlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/14/character-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e787b78030fdab0512be1eec2790950?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihlah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MARGINALISASI PERAN AGAMA DI ERA MODERN?</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/marginalisasi-peran-agama-di-era-modern/</link>
		<comments>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/marginalisasi-peran-agama-di-era-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 05:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rihlah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/marginalisasi-peran-agama-di-era-modern/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Surah : Al-kahfi: 103-105
Artinya:” Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan Mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang  yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan Mereka, dan Kami tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=5&subd=rihlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Pendahuluan</font></font></strong></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Surah : Al-kahfi: 103-105</font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Artinya:” Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan Mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang<span>  </span>yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. <span>Maka hapuslah amalan-amalan Mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. </span></font></font><span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Semakin hari kian terasa bahwa kehidupan manusia makin menjurus kearah pengejaran segala sesuatu yang bermakna fisik-material, di mana dalam kajian sosiologi kecenderungan semacam ini disebut sebagai proses “reifikasi”, yaitu ketika manusia saling mengejar apa saja yang bernilai “material”. Bagi mereka kehidupan ini dimaknai hanya sekedar untuk mengisi “perut” dan memenuhi segala macam kesenangan yang nyaris mengabaikan segala aspek yang berdimensi spiritual.</font></p>
<p><span id="more-5"></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Agama hampir dapat dipastikan akan mengalami dampak yang cukup mengancam kelangsungan hidupnya, ketika sekularisasi besar-besaran telah menggusur ikatan yang bersifat “sakral, suci dan transenden”, sehingga afinitas keagamaan makin pudar dan luntur, bahkan kadar keberagamaan dapat menghilang sama sekali dalam pergaulan hidup manusia era modern, inilah salah satu ciri dan dampak dari era yang disebut Cak Nur “ Zaman Teknik”.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Memang harus diakui bahwa manusia telah melalui suatu perjalanan panjang dalam pencarian hakekat dan makna hidupnya. Pengalaman demi pengalaman telah dilalui yang pada akhirnya manusia telah sampai kepada puncak kemajuan melalui pengemangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dimana IPTEK mendominasi segala aspek kehidupan.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Kemoderenan selalu identik<span>  </span>dengan kehidupan keserbaadaan, sedangkan modernisasi itu sendiri merupakan salah satu cirri umum peradaban maju – yang dalam sosiologi berkonotasi perubahan sosial masyarakat yang kurang maju atau primitive untuk mencapai tahap yang telah dialami oleh masyarakat maju atau berperadaban.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Mungkin modernitas memang suatu keharusan sejarah manusia, modernisasi merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan, baik individual maupun kemasyarakatan. Tidak kurang filosof eksistensialis menyebut era ini sebagai “kehancuran”, kendatipun membuka berbagai kemungkinan baru. T.S. Elliot menyebutnya sebagai era kecemasan, bahkan bagi para seniman era ini disebut sebagai keterasingan baru dan pemenjaraan yang paling menakutkan.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Jadi memang harus dipahami bahwa zaman modern harus dipandang sebagai suatu kelanjutan yang wajar dan logis, dalam perkembangan kehidupan manusia, yang ditandai oleh kreatifitas manusia dalam mencari jalan mengatasi kesulitan hidupnya di dunia ini, dan harus dipahami pula bahwa betapapun kreatifnya manusia di zaman modern, namun kretifitas itu, dalam perspektif sejarah dunia dan umat manusia secara keseluruhan, masih merupakan kelanjutan hasil usaha (<em>achievement)</em> umat manusia sebelumnya. Karena itulah modernitas sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, lambat ataupun cepat modernitas tentu pasti muncul dikalangan umat manusia, entah kapan dan di bagian mana di muka bumi ini. Jika kebetulan momentum zaman modern dimulai oleh Eropa Barat laut sekitar 2 abad yang lalu, maka sebetulnya telah terjadi pula kebetulan serupa sebelumnya, yaitu dimulainya momentum zaman agrarian dari lembah Mesopotamia sekitar lima ribu tahun yang lalu, yang disebut juga sebagai zaman permulaan sejarah, dan zaman sebelumnya disebut zaman prasejarah yang tanpa peradaban, karena itu lembah Mesopotamia dianggap sebagai tempat buaian peradaban manusia.</font><a name="_ftnref1" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Bagaimana peran agama di tengah Era Modern (dampak yang ditimbulkan, juga pengaruh yang drastis bagi kehidupan <span> </span>manusia), penulis mencoba untuk mengungkap dalam tulisan ini.</font></p>
<p><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Pembahasan</font></font></strong></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3">A.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">     </span></span></strong><span dir="ltr"><strong><font size="3">Definisi</font></strong></span></font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Kata modenisasi secara etimologi berasal dari kata <em>modern</em>, kata <em>modern</em> dalam kamus umum bahasa Indonesia adalah yang berarti: baru, terbaru, cara baru atau mutakhir, sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai dengan tuntunan zaman, dapat juga diartikan maju, baik. Kata <em>modernisasi</em> merupakan kata benda dari bahasa latin “<em>modernus</em>” (<em>modo</em>:baru saja) atau model baru, dalam bahasa Perancis disebut <em>Moderne</em>.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Modernisasi ialah proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini.</font><a name="_ftnref2" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Modernisme adalah pikiran, aliran, gerakan-gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Modernisme dalam kamus bahasa Indonesia<span>  </span>berarti pembaharuan, mempunyai padanan kata dalam bahasa Arab <em>tajdid, ashriy, hadits</em>, bukan <em>bid’ah, ibda</em> atau <em>ibtida</em>, yang berarti kebaruan, pembaruan atau pembuatan hal baru, dalam bahasa Inggris <em>Innovation</em>, konotasinya negatif karena secara semantik mengandung arti pembuatan hal baru dalam agama <em>an sich</em>, (dalam Islam misalnya ada ajaran yang bersifat mutlak, tidak dapat diubah tetap ortodoks atau menurut sunnah, terutama dalam hal pokok kredo, kepercayaan, bahkan dalam ibadahpun misalnya shalat shubuh harus dua raka’at, sesuai apa yang dikerjakan Nabi. Jadi yang harus dimodernisasikan dalam Islam adalah pola berpikir terhadap agama yang perlu diperbaharui dalam arti memperbaharui penafsiran-penafsiran atau interpretasi terhadap ajaran dasar al-Qur’an dan Hadits, sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman).</font></p>
<p><span><font size="3" face="Times New Roman">Adapun modernisasi secara terminologi terdapat banyak arti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dari banyak ahli. Menurut Daniel Lerner, modernisasi adalah istilah baru untuk satu proses panjang – proses perubahan social, dimana masyarakat yang kurang berkembang memperoleh ciri-ciri yang biasa bagi masyarakat yang lebih berkembang.</font></span><a name="_ftnref3" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><span></span><span><font size="3" face="Times New Roman">Light dan Keller, mengartikan modernisasi sebagai perubahan nilai-nilai, lembaga-lembaga dan pandangan yang memindahkan masyarakat tradisional kearah industrialisasi dan urbanisasi.</font></span><a name="_ftnref4" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><span><font size="3" face="Times New Roman"> Atau seperti ditegaskan Zanden, modernisasi merupakan suatu proses yang melaluinya, suatu masyarakat beralih dari pengaturan sosial dan ekonomi tradisional atau pra-industrial ke masyarakat yang bercirikan industrial.</font></span><a name="_ftnref5" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> Industrialisasi sering digunakan dalam arti luas sebagai ekuivalen dengan bentuk modernisasi ekonomi.</font></font></span><span><font size="3" face="Times New Roman">Definisi senada diungkap Nurcholish Madjid, yang mengatakan bahwa “zaman modern”, adalah “zaman Teknik” (<em>technical Age</em>), bila dilihat dari hakikat <span> </span>intinya, karena pada zaman ini peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme sangat kental, wujud keterkaitan antara segi teknologis diacu sebagai dorongan besar pertama umat manusia memasuki zaman sekarang ini, yaitu revolusi industri (teknologis) di Inggris dan revolusi Perancis (social politik) di Perancis.</font></span><a name="_ftnref6" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Begitu juga J. Kautsky Jr. mengatakan bahwa modernisasi adalah proses yang melaluinya suatu masyarakat mencapai keyakinan terhadap control rasional dan ilmiah lingkungan fisik dan manusia serta implikasi teknologi yang sesuai dengan tujuannya.</font><a name="_ftnref7" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><font size="3" face="Times New Roman"> Ahli lainnya, Wright berpendapat bahwa biasanya modernisasi harus dibayar dengan harga yang mahal. Harga sosialnya, menurut Weiner adalah timbulnya ketegangan (<em>tension</em>), sakit mental, kekerasan, perceraian, kenakalan remaja, konflik rasial, agama dan kelas, dan juga menurut Wright akan timbul kriminalitas, penyalahgunaan obat, serangan jantung.</font><a name="_ftnref8" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><font size="3" face="Times New Roman"> Serta dapat pula ditambahkan tentu saja adalah stress dan AIDS, dua penyakit yang banyak muncul dalam masyarakat industri modern, tetapi begitu sulit untuk menemukan obatnya.</font></p>
<p><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Munculnya dua penyakit tersebut terakhir ini juga cukup menimbulkan tanda Tanya. Justru ketika manusia makin rasional mereka makin tidak mampu menguasai diri sendiri, yang kemudian menyeret mereka untuk terjerumus kepada perilaku yang aneh dan juga tidak rasional. Di Indonesia misalnya, khusus di Kota Besar dapat disaksikan makin banyaknya orang yang lari dari kenyataan hidup yang serba mekanistik kepada yang berbau “mistik”.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Jadi memang, modernisasi merupakan suatu proses yang mengandung banyak segi yang mencangkup perubahan-perubahan dalam semua kawasan pemikiran dan kegiatan manusia.</font></font></span><font size="3" face="Times New Roman">Pengertian lain dari modernisasi dikemukakan oleh R.A Scalapino, yaitu suatu proses di mana suatu masyarakat atau kawasan tertentu menselaraskan diri dengan tuntutan dan kesempatan waktu, dengan tujuan-tujuan memajukan pembangunan ekonomi, harmoni social dan stabilitas politik.</font><a name="_ftnref9" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn9" title="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><font size="3"><font face="Times New Roman"> <span>Pengamat lainnya mendefinisikan modernisasi sebagai proses perubahan social yang kompleks dari cara hidup dan berpikir tradisional. Modernisasi adalah satu bahagian dari pengalaman universal yang telah terjadi sejak lima abad lalu dan telah pula memasuki kawasan dunia yang berkembang sekitar satu abad yang lalu.</span></font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font><font face="Times New Roman"><strong><span><span><font size="3">B.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">     </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span><font size="3">Karakteristik Masyarakat Modern-Tradisional Sebuah Analisa Komparatif.</font></span></strong></span></font><span><font size="3" face="Times New Roman">Menurut pandangan dikotomik modern-tradisional, Asaf Husain</font></span><a name="_ftnref10" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn10" title="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><span><font size="3"><font face="Times New Roman">, memerinci kedua masyarakat tersebut menjadi:</font></font></span></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;" class="MsoTableGrid">
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="width:221.4pt;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;"><strong><span style="font-size:18pt;"><font face="Times New Roman">Masyarakat Tradisional</font></span></strong></td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><strong><span style="font-size:18pt;"><font face="Times New Roman">Masyarakat Modern</font></span></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1. Status Askriptif</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1. Status Prestasi</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">2. Peranan-peranan yang tersebar</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">2. Peranan Spesifik</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">3. Nilai-Nilai yang partikularistik</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">3. Nilai-nilai yang Universalistik</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">4. Orientasi Kolektif</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">4. Orientasi diri Sendiri</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">5. Afektifitas</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">5. Netralitas Afektif</font></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><span><font size="3" face="Times New Roman">Sedangkan bagi Abraham</font></span><a name="_ftnref11" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn11" title="_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span><font size="3"><font face="Times New Roman">, melihat karakteristik dari sudut pandang evolusi masyarakat sebagai berikut:</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>    </span></font></font></span></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;" class="MsoTableGrid">
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="width:2.05in;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">TRADISIONAL</font></font></strong></td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">TRANSISI</font></font></strong></td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">MODERN</font></font></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Berpindah-pindah</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Dualisme structural yang memungkinkan adanya bajak lembu dengan pesawat terbang</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Industri</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Teknologi primitive</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">-</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Teknologi Maju</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Sumber tenaga yang hidup</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kombinasi sumber tenaga serta perubahan budaya, muncul norma modernitas</font></font></span></td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Teknologi maju sumber tenaga yang tidak hidup</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pembagian kerja yang sederhana</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Industrialisasi</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pembagian kerja berdasarkan fungsi</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Swasembada unit social</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Urbanisasi</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Interdependensi social</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Produksi primer</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Mobilisasi politik</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Produksi sekunder</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Tradisi suci</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Rekayasa social</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Sekularisme</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Organisasi komunal</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">-</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Birokrasi impersonal</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Solidaritas mekanik</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">-</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Solidaritas organic</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">System status berdasarkan keturunan</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">-</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Mengutamakan prestasi</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Semangat gotong royong</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">-</font></p>
</td>
<td width="197" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:2.05in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Urbanisasi</font></p>
</td>
</tr>
</table>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font size="3" face="Times New Roman">Cara pandang lain dikemukakan oleh James Robertson</font></span><a name="_ftnref12" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn12" title="_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>, yang disebutnya dengan pergeseran paradigma. </span>Seperti pada table berikut:</font></font></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;" class="MsoTableGrid">
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="width:221.4pt;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">DARI</font></font></strong></td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">KE</font></font></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pengetahuan ilmiah dan akademis</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pemahaman intuitif</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Politik perwakilan dan pemerintahan birokratis</font></font></span></td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Politik komunitas dan demokrasi langsung</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Ekonomi institusional berdasar uang dan pekerjaan</font></font></span></td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Ekonomi dengan hadiah barter dalam rumah tangga dan masyarakat local</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Hubungan berjarak antara professional dengan kliennya</font></font></span></td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pengalaman bersama secara pribadi</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pelayanan social yang melembaga</font></p>
</td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Hubungan pribadi atas dasar kasih sayang</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:windowtext 1pt solid;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kegiatan religius yang terorganisir dan doktrin agama yang terkodifikasi</font></font></span></td>
<td width="295" vAlign="top" style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:221.4pt;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Pengalaman spiritual pribadi</font></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><strong><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3">C.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">     </span></span></strong><span dir="ltr"><strong><font size="3">Ciri-ciri Zaman Modern</font></strong></span></font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Adapun cirri zaman modern adalah:</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Penggunaan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan manusia.</font></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (yang merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak abad XVIII yang menjadikan manusia mampu membentuk serta mengendalikan alam melalui cara-cara yang tak terhingga)</font></span><a name="_ftnref13" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn13" title="_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a></span><span><font size="3"> sebagai wujud dari kemajuan intelektual manusia. </font></span></font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.75in;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">3.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span><span dir="ltr"><font size="3">manusia semakin kreatif, dan kreatifitas manusia bertujuan mencari jalan dalam mengatasi kesulitan hidup di dunia.</font></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3">D.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">    </span></span></strong><span dir="ltr"><strong><font size="3">Ciri Manusia Modern</font></strong></span></font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Menurut Inkeles modernisasi memerlukan perubahan mendasar dalam cara berpikir dan perasaan, yaitu perubahan dalam keseluruhan sikap terhadap problem kehidupan, masyarakat dan alam semesta. Untuk itu Inkeles membagi tujuh cirri khas manusia modern sebagai berikut:</font></p>
<p style="text-indent:-49.5pt;text-align:justify;margin:0 0 0 85.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Kesiapannya terhadap pengalaman baru dan keterbukaannya untuk menerima inovasi dan perubahan.</font></span></font></p>
<p style="text-indent:-49.5pt;text-align:justify;margin:0 0 0 85.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Ia harus mampu membentuk atau menangani opini berkenaan dengan sejumlah besar masalah dan isu yang timbul baik dari lingkungannya ataupun diluarnya.</font></span></font></p>
<p style="text-indent:-49.5pt;text-align:justify;margin:0 0 0 85.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">3.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Ia menunjukkan sikap yang lebih sadar terhadap berbagai sikap dan opini dilingkungannya daripada menutup diri terhadap kenyataan di luar dirinya.</font></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">4.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Berorientasi pada masa sekarang dan mendatang dari pada ke masa lalu.</font></span></span></font></p>
<p style="text-indent:-49.5pt;text-align:justify;margin:0 0 0 85.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">5.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Ia percaya bahwa manusia dapat belajar untuk menguasai lingkungan untuk memajukan tujuannya sendiri, bukan tunduk pada lingkungan.</font></span></font></p>
<p style="text-indent:-49.5pt;text-align:justify;margin:0 0 0 85.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">6.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Ia yakin bahwa dunia ini dapat dikalkulasikan, bahwa orang dan lembaga-lembaga lain di sekitarnya dapat tergantung padanya untuk memenihi dan menemukan kewajiban dan tanggung jawabnya.</font></span></font></p>
<p style="text-indent:-49.5pt;text-align:justify;margin:0 0 0 85.5pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span><font size="3">7.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                           </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Ia sangat percaya terhadap keadilan distributive.</font></span></font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Untuk itu Black menyarankan adanya empat masalah pokok yang harus diingat dalam menuju modernisasi:</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                             </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Ditandai oleh betapa pentingnya kemampuan yang relevan dengan modernisasi yang telah dikembangkan masyarakat selama era pra-modern.</font></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                             </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Memandang kemajuan ilmu seperti yang tercermin dalam revolusi ilmu dan teknologi sebagai satu sumber pokok perubahan yang membedakan era modern dengan era-era sebelumnya.</font></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">3.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                             </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Menguji kemampuan suatu masyarakat untuk mengambil keuntungan yang mungkin diberikan oleh kemajuan pengetahuan dalam bidang politik, ekonomi dan social.</font></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">4.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">                             </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Secara kritikal, mengevaluasi penggunaan berbagai kebijakan yang diambil oleh pimpinan politik untuk mengubah warisan lembaga tradisional hingga berguna bagi masyarakat modern serta untuk meminjam secara selektif dari yang lebih modern. </font></span></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><span></span></span></font><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3">E.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">     </span></span></strong><span dir="ltr"><strong><font size="3">Unsur Peradaban Modern</font></strong></span></font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Menurut A.H. Siddiqi, peradaban modern mencangkup beberapa unsure, yaitu: Liberalisme, materialisme, demokrasi atau pemerintahan mayoritas, hubungan bebas (promiskuiti) seksual, dan nasionalisme.</font><a name="_ftnref14" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn14" title="_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a></p>
<p><span><font size="3" face="Times New Roman">Lerner mengemukakan bahwa aspek modernisai ialah : urbanisasi, industrialisasi, sekularisasi, demokratisasi, pendidikan dan partisipasi media.</font></span><a name="_ftnref15" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn15" title="_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><span></span><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3"> </font></span></strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3">F.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></strong><span dir="ltr"><strong><font size="3">Dampak dan Masalah Masyarakat Modern</font></strong></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Light dan Keller mengajukan empat dilemma yang dihadapi masyarakat modern, yaitu:</font></font></span></p>
<p><span></span><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Dilema pertumbuhan, meningkatnya pengangguran dan alienasi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi</font></span></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><span></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><font size="3">2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Dilema control, mengontrol perkembangan teknologi.</font></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">3.</font></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Dilema distribusi, ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin.</font></span></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><span></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">4.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">  </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Dilema peranan kerja, tidak mampu memberikan peranan social yang memadai.</font></span><a name="_ftnref16" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn16" title="_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a></span></font><span></span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Kehidupan social moden, menurut Poole membawa kontradiksinya sendiri, baginya ia menimbulkan tujuan yang tidak sesuai dengan tujuan-tujuan yang tidak mampu untuk dipenuhi.</font><a name="_ftnref17" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn17" title="_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><font size="3"><font face="Times New Roman"> <span>Bagi agama, modernitas bukan sekedar sesuatu yang bersifat eksternal yang memerlukan penyesuaian atau tidak. Karena modernitas mencangkup suatu perasaan identitas yang berubah dan suatu cara baru menyikapi imej-imej batas. Di Barat, modernitas muncul tidak hanya di kawasan sains dan teknologi tetapi juga memasuki inti tradisi agama itu sendiri.</span></font></font><span><font size="3" face="Times New Roman">Bagi Islam, modernitas menyebabkan adopsi system politik, hukum dan pendidikan Barat.</font></span><a name="_ftnref18" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn18" title="_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><span><font size="3" face="Times New Roman"> Sekularisai merupakan tantangan yang memperkecil peranan agama, tetapi ia tidak dapat dihindari. Sekularisme mencangkup “concern” terhadap dunia material daripada kepentingan abadi dan spiritual. Suatu cara berpikir sekuler cenderung menemukan penjelasan tertinggi segala sesuatu dan tujuan akhir umat manusia di dalam batas yang tidak dapat diindera dan ditemukan. Bagi masyarakat beragama, seperti abad pertengahan, sasaran utamanya terletak pada dunia-nanti, pada kehidupan setelah mati. Sedangkan dalam masyarakat sekuler, perhatian tertuju pada “disini dan kini”, biasanya terarah pada penguasaan benda-benda material.</font></span><a name="_ftnref19" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn19" title="_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><span></span><span><font size="3" face="Times New Roman">Davis menganggap sekularisasi baginya sudah merupakan satu takdir dalam masyarakat modern.</font></span><a name="_ftnref20" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn20" title="_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><span><font size="3"><font face="Times New Roman"> Masyarakat industri modern baginya didasarkan pada rasionalisasi dan bertujuan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi terus-menerus. Sekularisasi yang mengancam eksistensi agama bermakna ganda “<em>entgollerung</em>” (runtuhnya agama) dan “<em>die entzauberung der welt</em>” (hilangnya magis dari dunia), yang menurut Weber gejalanya adalah:</font></font></span></p>
<p><span></span><font face="Times New Roman"><span><span><font size="3">1.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">   </span></span></span><span dir="ltr"><span><font size="3">Masyarakat mengalihkan perhatiannya dari usaha-usaha agama “<em>Other Worldly</em>” kepada dunia ini dan menginvestasikan dunia ini dengan signifikansi positif yang baru</font></span></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"><span></span></span></font><font face="Times New Roman"><span><font size="3">2.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">   </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Masyarakat dengan sendirinya terbebas dari “taman magis” arkaik dan menghilangkan kekudusan dunia, untuk kemudian dimanipulasi menjadi cara yang tidak berkhayal.</font></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font><font face="Times New Roman"><span><font size="3">3.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span dir="ltr"><font size="3">Sebagai hasil dari pertumbuhan kekayaan dan hedonisme pembangunan yang berhasil maka agama mulai merosot.</font><a name="_ftnref21" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn21" title="_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span><font size="3">G.</font><span style="font:7pt 'Times New Roman';">    </span></span></strong><span dir="ltr"><strong><font size="3">Marginalisasi Peran Agama di Era Modern</font></strong></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kemoderenan selalu identik dengan kehidupan keserbadaan. Sedangkan modernisasi merupakan salah satu ciri dari peradaban maju. Modernisasi selalu diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya manusia menjadi mampu menguasai alam dengan memanfaatkan teknologi modern. Masih banyak lagi pengertian modernisasi, namun intinya menurut Lerner, modernisai itu mencangkup : 1) pertumbuhan ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan, 2) partisipasi politik, 3) penyebaran norma-norma, 4) tingginya tingkat mobilitas social dan geografis, 5) Transformasi kepribadian.modernitas tersebut menurut Hardgrave gejalanya apat dilihat dalam tiga dimensi: teknologis, organisasional dan sikap. Aspek teknologinya bisa dilacak pada dominasi industrialisasi sehingga masyarakat dapat dibedakan menjadi praindustri dan industri. Sedangkan dimensi organisasional mengejawantah dalam tingkat diferensiasi dan spesialisasi serta menjelma menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat kompleks. Di pihak lain pihak segi sikap dalam kemeoderenan mencangkup rasionalitas dan sekularisasi dan pertentangan cara pandang ilmiah lawan magis –religius.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Dari pandangan terakhir diatas jelas betapa marginal kedudukan agama dalam madyarakat industri modern. Ada dua corak agama yang memiliki cara yang berbeda dalam merespon tuntutan perkembangan masyarakat, yaitu agama-agama wahyu – yang relative bisa bertahan menghadapi arus gelombang modernisasi seperti Islam, Yahudi dan Kristen juga agama-agama wahyu lain, yang begitu rentan terhadap amukan modernisasi sehingga tidak mampu bertahan.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Semua agama mempunyai klaim yang sama, untuk dapat berlaku dalam semua situasi, dalam segala satuan social dan dalam rentangan waktu yang tidak terbatas. Setiap agama memiliki empat isi pokok, yaitu: doktrin, organisasi, ritual dan pemimpin. Kecanggihan unsur-unsur tersebut sangat tergantung pada tingkat kemajuan yang dialami oleh masyarakat pendukungnya. Karena itu agama yang mempunyai tingkat kecanggihan abstraksi yang rendah biasanya sangat mudah terpengaruh oleh perubahan yang dialami pemeluknya.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Salah satu penyebab utama merosotnya peran agama dalam peradaban industri modern adalah karena agama dianggap tidak memiliki kontribusi langsung bagi upaya mengejar kehidupan fisik-material. Bahkan seperti ditandaskan Mahden Ilmuan social Amerika, yang menilai agama sebagai faktor negatif dalam proses modernisasi. Agama bagi mereka adalah suatu penghambat dalam meraih modernisasi. Jadi agama adalah penghambat kemajuan. Anggapan ini telah berakar sejak abad ke-19 seperti dapat dilacak pada pemikiran Comte, Spenser, Marx dan lain-lain.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Agama yang mengutamakan kepercayaan akan yang Maha Ghaib, kebersamaan dan berorientasi kepada hidup sesudah mati sangat sulit untuk bisa diterima oleh pemikiran positivistik dan sekularistik, sehingga agama terdepak dari segala aspek kehidupan.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Pada sisi lain, krisis peradaban modern, meminjam istilah<span>  </span>J.A Camilleri, juga menimbulkan keberantakan yang gejalanya dapat dilihat dalam ketidak seimbangan psiko-sosial, structural, sistematis dan ekologis.</font></font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Dari dampak yang telah dikemukakan diatas, terlihat jelas peran agama menjadi sangat marginal, karena agama dianggap tidak dapat memberi kontribusi apapun dalam menghadapi tuntutan hidup yang begitu keras dan penuh persaingan. Gejala kemerosotan agama tampak dalam melemahnya doktrin-doktrin yang ada, organisasi agama tidak mampu mengikuti irama dan ritme perubahan social, ritual agama makin sedikit peminatnya, dan pemimpin agama juga menampakkan diri seperti kurang semangat karena tidak berdaya berpacu dengan arus tuntutan hidup budaya materialistic-individualistik, bahkan sangat hedonistik, hal tersebut nampaknya juga merupakan suatu gejala sosial pemimpin agama dewasa ini, dimana sebagian diantara mereka memahami agama secara dangkal, hingga akhirnya “membodohkan umat”.</font></font></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Agama di lain pihak, dipandang tidak mampu melerai konflik-konflik maupun dis-organisasi sosial bahkan dituding sebagai bermasa bodoh “cuek” terhadap malapetaka kemanusiaan universal.</font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Namun sebaliknya harus dipahami pula bahwa satu sisi, agamalah yang diharapkan bisa memainkan peranan positif aktifnya dalam mengerem perilaku serakah, brutal, dan mengancam kelangsungan hidup serta mengabaikan sama sekali spiritualitas dan transendentalisme untuk diarahkan kepada kehidupan yang bertatanan ketuhanan, kemanusiaan dan transcendental dalam menuju dunia yang damai dan berperadaban. Disinilah letak peran penting pemimpin agama, untuk dapat menginterpretasi agama, dari berbagai sudut pandang, rasional, universal dan mengejawantah “membumi” sesuai dengan kebutuhan umat dan zaman, hingga agama tidaklah dipandang sebagai momok penghalang dari era modern ini.</font></font></p>
<p><font size="3"></font><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Kesimpulan</font></font></strong></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Upaya preventif, dan menjadi salah satu problem tersulit untuk dihadapi, namun harus menjadi komitmen bersama pemuka agama, adalah mencegah kemerosotan peran agama di tengah era modern ini. <span>Bila ditelaah dari aspek internal upaya pencegahan tergantung pada <em>performance</em> empat isi agama.</span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><em><span>Pertama,</span></em><span> segi doktrin agama, tuntutannya adalah mengupayakan agar ajaran-ajaran agama menjadi kontekstual. Tugas ini tidak gampang. Konservatisme dan ortodoksi pemeluk agama tidak mudah dibelokkan kearah kontekstualisasi. Pola pembelajaran agama (baca: Islam) khususnya, masih terasa kurang diarahkan kepada pembumisasian Qur’an atau <span> </span>membangun “budaya qur’ani”, sebab beberapa fakta dimasyarakat menunjukkan al-Qur’an sebagai<span>  </span>sumber pengetahuan dan aturan hidup muslim, dikenal, dipahami, masih sebatas pada aspek “tahu” (ranah kognitif) atau sebatas ranah ”knowing The Good”, al-Qur’an sebagai landasan hidup, di masyarakat pada umumnya<span>  </span>baru sebatas <span> </span>level“hafalan”, artinya tugas bersama umat muslim tanpa terkecuali, untuk bersama memahami (kognitif) secara komprehensif, universal tidak parsial, bukan hanya sebatas pemahaman literal, tetapi lebih dari itu memahami secara radikal apa maksud dari suatu ayat, selanjutnya, pembelajaran al-Qur’an harus menyentuh aspek afektif (dirasakan dan dicintai) <em>”Loving The Good”</em>, terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari ajaran-ajaran dalam al-Qur’an dalam semua aspek kehidupan (aspek psikomotorik), ”<em>Acting The Good</em>”.</span></font></font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman"><em>Kedua</em>, pelembagaan agama ke dalam organisasi akan terhadang oleh arus sekularisai yang begitu gigih memutuskan kaitan antara yang profane dengan yang imanen. Agama diputukan hubungannya dengan masalah kenegaraan, karena keberagamaan adalah urusan pribadi yang tidak perlu dicampurtangani oleh pemerintah. Inilah debirokratisasi agama. Kondisi seperti ini tentunya masih perlu dipikirkan kembali.</font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman"><em><span>Ketiga</span></em><span>, ritual agama yang dianggap menghambat produktivitas ekonomi masyarakat. Penyegaran ritus agama juga tidak mudah karena harus pula berpegang pada kadar otentisitasnya. Menghindari tuduhan bahwa agama sarat dengan superstisi, <em>takhayul, bid’ah, khurafat</em><span>  </span>dengan sendirinya terkait pada rasionalisasi ritual-ritual agama. Agama yang paling sedikit dan efisien ritualnya akan memiliki masa depan yang lebih baik. Beralihnya orang kepada mistisisme adalah salah satu manifestasi dari proposisis ini.</span></font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"><em><span>Keempat</span></em><span>, aspek kepemimpinan agama, tuntutan terberat adalah pengadaan pemimpin “mumpuni, handal, memiliki kualifikasi keilmuan yang komprehensif, mendalam”, dalam arti memilki penguasaan mendalam terhadap totalitas ajaran agama dan dinamika yang menyertainya serta memilki wawasan dan pemahaman yang memadai pula tentang perikehidupan masyarakat industri modern dengan segala atributnya. Disini ia pun dituntut memiliki kmampuan komunikasi kepada berbagai pihak. Disamping itu, secara <em>personality </em>yang terpenting dari seorang “pemimpin agama” ia harus memiliki <em>“good character”,</em> artinya pemimpin bukan hanya pandai berbicara, namun ia menjadi<em> “uswah hasanah”.</em></span></font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman"><span></span></font></font><strong><span><font size="3"><font face="Times New Roman">DAFTAR PUSTAKA</font></font></span></strong></p>
<p><strong><span></span></strong><em><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Al-Qur’an al-Karim.</font></font></span></em><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Abraham, M. Francis, <em>Modernisasi Dunia ke-3</em>, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1984</font></font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman">Davis, W, <em>Religion and Development : Weber and The East Asian Experiance</em> dalam M. Weiner and S.P. Huntington (eds), <em>Understanding Political Development</em>,<br />
Boston: Little Brown and Company, 1987.</font></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">DEPDIKBUD,<em> Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>,<br />
Jakarta: Balai Pustaka, 1989.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Harrington, Michael, <em>The Other America</em>,<br />
Baltimore: Penguin Books, 1968.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Hussain, Asaf, <em>Political Perspective in The Muslim World</em>,<br />
London: Mac Millan, 1984.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Huntington, P. Samuel, <em>The Clash Of Civilization and Remaking Of The World</em>, Terj. <em>Benturan Antar Peradaban</em>,<br />
Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2000.</font></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Imtiaz, <em>Modernization and Social Change Among Muslims in India</em>,<br />
New Delhi: Manohar, 1983.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Lerner, Daniel, <em>The Passing Of Traditional Society</em>, Glencoe: Free Press, 1958.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">___, <em>International Encyclopedia Of Social Sciences</em>, Vol. 9, 10,<br />
New York: The Macmillan Company and The Free Press, 1968.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Light, Donald Jr, Suzanne Keller, <em>Sociology</em>,<br />
New York: Alfred A. Knopf, 1982.</font></p>
<p><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Madjid, Nurcholish, <em>Islam dan Doktrin Peradaban</em>, Jakarta: Paramadina, 1992.</font></font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Mickey., J.P., et. al, <em>A History Of World Society</em>,<br />
Boston: Houghton Mifflin Company, 1984.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Poole, R,<em> Morality and Modernity</em>,<br />
London: Routledge, 1991.</font></p>
<p><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Robertson, James, <em>Alternatif Yang Sesat: Pilihan Untuk Masa Depan</em>, Jakarta: YOI, 1990.</font></font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Wrihgt, T.P., <em>Indveted Modernization of Indian Muslims By Revivalists</em>, dalam Imtiaz.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Zanden, Vander, Jame W, <em>The Social Experience An Introduction To Sociology</em>,<br />
New York: Random House, 1988.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p> CATATAN KAKI</p>
<p><a name="_ftn1" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><span><font face="Times New Roman"> N</font></span><span><font face="Times New Roman">urcholish Madjid, <em>Islam dan Doktrin Peradaban</em>, (Jakarta: Paramadina, 1992), h. 450-451.</font></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> DEPDIKBUD, <em>Kamus Besar Bahasa<br />
Indonesia</em>, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h. 589</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Daniel Lerner, <em>International Encyclopedia Of Social Sciences</em>, Vol. 9 dan 10, (New York: The Macmillan Company and The Free Press, 1968), h. 389</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Light, Donald Jr. and Suzanne Keller, <em>Sociology</em>, (<br />
New York: Alfred A. Knopt, 1982), h. 567.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Vander Zanden, Jame W., <em>The Social Experience An Introduction To Sociology</em>, (New York: Random House, 1988), h. 606</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Nurcholish Madjid, Op. Cit., h. 452</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Dikutip oleh Imtiaz (Ed.,), <em>Modernization and Social Change Among Muslims in India</em>, (New Delhi: Manohar, 1983), h. 83</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> T.P. Wright, “<em>Inadvented Modernization Of Indian Muslims by Revivalists</em>, dalam Imtiaz Ahmad (Ed.), Op. Cit., h. 83-98</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref9" title="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> R. A. Scalapino, <em>Modernization and Revolution In Asia</em>, dalam (<em>Problem of<br />
Commuism<span style="font-style:normal;"> Jan-April.</span><span style="font-style:normal;">,<br />
19992</span><span style="font-style:normal;">), h. 180</span></em></font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref10" title="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Asaf Hussain, <em>Political Perspective in The Muslim World,</em> (London: Mac Millan, 1984), h. 13-14</font></p>
<p><a name="_ftn11" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref11" title="_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span><font face="Times New Roman"> M. Francis Abraham, <em>Modernisasi Di Dunia ke-tiga</em>, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h. 13</font></span></p>
<p><a name="_ftn12" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref12" title="_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><span><font face="Times New Roman"> James Robertson, <em>Alternatif Yang Sesat: Pilihan untuk Masa Depan</em>, (Jakarta: YOI, 1990), h. 75</font></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref13" title="_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Samuel P. Huntington, <em>The Clash of Civilization and Remaking of The World</em>, Terj.<em> Benturan Antar Peradaban</em>, (<br />
Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2000), h. 97</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref14" title="_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> A.H. Siddiqi, <em>Islam and Remaking of Humanity</em>, (Lahore:Kazi Publications, 1978),<span>  </span>h. 12</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref15" title="_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> D. Lerner, <em>The Passing of Traditional Society,</em> (Glencoe: Free Press, 1958), h. 438</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref16" title="_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Light and Keller, Op. Cit., h. 572</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref17" title="_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> R. Poole, <em>Morality and Modernity</em>, (London: Routledge, 1991), h. 140.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref18" title="_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> A.H. Siddiqi, Op. Cit., h. 9</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref19" title="_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> J.P. Mckey et. Al., <em>A. History of World Societies</em>, (Boston: Houghton Mifflin Company, 1984), h. 586</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref20" title="_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"><br />
W. Davis, <em>Religion and Development: Weber and The East Asian Experience</em>, dalam M. Weiner and S. P. Huntington (eds), <em>Understanding Political Development</em>, (Boston: Little Brown and Company, 1987), h. 228.</font></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="http://rihlah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref21" title="_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Ibid., h. 228</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rihlah.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rihlah.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihlah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihlah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihlah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihlah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihlah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihlah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihlah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihlah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihlah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihlah.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=5&subd=rihlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/marginalisasi-peran-agama-di-era-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e787b78030fdab0512be1eec2790950?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihlah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ?</title>
		<link>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/perempuan-bekerja-dilema-tak-berujung/</link>
		<comments>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/perempuan-bekerja-dilema-tak-berujung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 05:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rihlah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/perempuan-bekerja-dilema-tak-berujung/</guid>
		<description><![CDATA[Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=3&subd=rihlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi.</span><span id="more-3"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;"><br />
Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu.</span><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja.</p>
<p>Annggapan ini bisa jadi juga terkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka.</p>
<p>Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup, saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”.</p>
<p>Terlepas dari pembahasan di atas, perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Bagaimanapun, tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider), yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda, akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis.</p>
<p><strong>Kerja produktif dan reproduktif<br />
</strong><br />
Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi, keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, papan. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”, bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan, hamil, melahirkan, menyusui, namun mencakup pula pengasuhan, perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental, kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi, misalnya pekerjaan rumah tangga. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan, kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja.</p>
<p>Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini, seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas, terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi, di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki, biasanya dikerjakan di luar rumah. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah.</p>
<p>Seperti yang pernah diungkapkan, nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan, seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga, pada kenyataannya, bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting, melainkan laki-laki.</p>
<p>Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Atas nama tradisi dan kodrat, perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Institusi pendidikan, agama, media massa, mendukung pula pandangan ini. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga.</p>
<p>Sayangnya, keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. Dengan kata lain, tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Jika kerja tersebut diperhitungkan, niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”.</p>
<p>Sebenarnya di banyak tempat, terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan, meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”.</p>
<p>Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan laki-laki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. Jam kerja panjang, ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja, dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya, adalah beberapa contoh nyata. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas, masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang.</p>
<p>Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga, baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja.</p>
<p>Ternyata, kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Perlu perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah, hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga, termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga.</p>
<p>Seperti yang juga sudah disinggung di atas, berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Di pedesaan, perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian, sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Di luar konteks desa-kota, sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49,2%, diikuti oleh sektor perdagangan 20,6%, dan sektor industri manufaktur 14,2%.</p>
<p><strong>Diskriminasi kerja perempuan</strong></p>
<p>Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan, keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. Perempuan di sektor pertanian pedesaan, mayoritas berada di tingkat buruh tani. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil, garmen, sepatu dan elektronik. Di sektor perdagangan, pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional, usaha warung, adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan.</p>
<p>Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah, kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. Untuk kasus kota, sebagai buruh pabrik, sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Dari kalangan pengusaha sendiri, terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki.</p>
<p>Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang, menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Sementara bila mempekerjakan perempuan, biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 5-8% dari total biaya produksi (Tjandraningsih, 1991:18). Dalam kasus tersebut, persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau, buruh perempuan mendapat upah Rp 1.650,00 per hari sementara buruh laki-laki mendapat upah Rp 1.850,00 per hari (Indraswari, 1994:52). Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan.</p>
<p>Jika perempuan pada strata menengah ke bawah, bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas, bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah.</p>
<p>Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri, diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki, di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama, namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang- tetap dianggap lajang. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuan- tidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan- total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama.</p>
<p>Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit, seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. Ideologi gender adalah segala aturan, nilai, stereotip, yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman, 1999: 9). Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik, maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami.</p>
<p>Persoalannya, generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. Bagi perempuan miskin, dalam situasi krisis ekonomi, banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga, atau bahkan lebih. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja.</p>
<p>Selain persoalan upah, dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki, perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat, posisi, jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. </span><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia, namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. Demikian pula dapat dihitung dengan jari, jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural, bupati, walikota, menteri, dll.</span><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Dari gambaran persoalan diatas, dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja, termasuk akses terhadap program-program pelatihan untuk pengembangan karir.</p>
<p> </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Arial;"></span><strong><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Dalam Islam tidak ada masalah<br />
</span></strong><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;"><br />
Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia, maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi, dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebutlah misalnya, Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.</span><span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573). Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795). Fikih membenarkan suami dan isteri, keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah.</p>
<p>Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan laki-laki. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. Bahkan dalam fikih, perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya, kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang, akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Akhirnya, berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan, tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. (dd) ]</p>
<p><strong>Sumber Bacaan</strong> :<br />
Dedi Haryadi, Indrasari Tjandraningsih, Indraswari, dan Juni Thamrin, Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia, AKATIGA, April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin, Potret kerja buruh perempuan; Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember, AKATIGA, Juni 1994 Ratna Saptari, Perempuan bekerja dan perubahan sosial, Kalyanamitra, 1995. <span style="font-size:10pt;color:#003366;font-family:Arial;">Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795. Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483. Fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205. Al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573</span></p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/rihlah.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/rihlah.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rihlah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rihlah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rihlah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rihlah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rihlah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rihlah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rihlah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rihlah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rihlah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rihlah.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rihlah.wordpress.com&blog=1084753&post=3&subd=rihlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rihlah.wordpress.com/2007/05/10/perempuan-bekerja-dilema-tak-berujung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2e787b78030fdab0512be1eec2790950?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rihlah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>